Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

MUHASABAH

Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, artinya secara etimologis melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya. 

Baik bersifat vertikal, hubungan dengan Allah, maupun horisontal, hubungan dengan sesama manusia. Ia merupakan salah satu sarana yang dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT. 

Urgensi muhasabah terlihat dalam empat hal berikut. Pertama, muhasabah merupakan perintah Allah, sebagaimana firman-Nya, Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 
(QS Al Hasyr [59]: 18). 

Sedangkan, melanggar perintah Allah jelas akan membawa petaka. Menurut Imam Ibnu Katsir, makna ayat ini adalah “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Dan lihatlah amal-amal saleh yang telah kalian tabung untuk diri kalian pada hari kembali kalian dan pertemuan kalian dengan Rabb kalian ..
(Tafsir Ibnu Katsir V/69)

Sebelumnya, Umar bin Khathab pernah berkata, “ Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatu pun pada kalian yang tersembunyi.
(Az Zuhd, Ahmad bin Hambal, h. 177) 

Kedua, muhasabah termasuk Qadhaaya Imaniyah, diskursus keimanan. Artinya, barometer keimanan seorang mukmin sangat ditentukan oleh sejauh mana ia menerapkan muhasabah dalam kehidupannya. Untuk itu, perintah muhasabah dalam ayat di atas diawali dengan seruan mesra pada orang-orang beriman, Ya ayyuhalladziina aamanuu. Maka, keimanan tanpa muhasabah adalah hampa, bahkan dapat berbuah nestapa. 

Ketiga, muhasabah adalah karakter orang bertakwa. Hal ini terlihat jelas ketika perintah muhasabah pada ayat tadi diapit oleh dua kali perintah takwa, “Bertakwalah kepada Allah. ” Berarti, mustahil seseorang sampai pada derajat takwa ketika tidak pernah mengiringi kehidupannya dengan muhasabah. Padahal, surga disiapkan Allah SWT hanya bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS Ali Imran [3]: 133)

Seorang dari generasi tabiin, Maimun bin Mihran (wafat 117 H), mengatakan, “Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

Keempat, muhasabah adalah kunci sukses kehidupan manusia unggul, seperti generasi terbaik umat ini, para sahabat. Sejarah mencatat, kehidupan mereka tidak pernah sepi dari muhasabah. Padahal, mereka orang yang ahli ibadah, jihad, aktif melakukan kebaikan dan perbaikan. Meskipun demikian, mereka tetap merasa takut. Jangan-jangan amal mereka tidak diterima oleh Allah SWT. 

Abu Bakar Ash Shiddiq misalnya, pernah memegang lidahnya sambil mengatakan, “Lidah inilah yang menjerumuskan saya ke dalam banyak lobang (kesalahan).” Beliau sering menangis dan pernah berkata, “Demi Allah, sungguh saya berharap bisa menjadi pohon yang dimakan dan dilumat tanpa diminta pertanggungjawaban." 

Umar bin Khathab saking seringnya menangis, sampai terlihat di wajahnya dua goresan hitam bekas tangisan. Diriwayatkan pula, beliau memukul kedua kakinya dengan cemeti apabila malam telah larut seraya berkata, “Apa yang telah kamu perbuat hari ini?” 

Selain itu, Utsman bin Affan setiap kali berhenti di kuburan selalu menangis sampai air matanya membasahi jenggotnya. Beliau berkata, “Seandainya aku ada di antara surga dan neraka, tidak tahu aku diperintahkan masuk ke mana, niscaya aku akan memilih untuk menjadi abu saja sebelum aku tahu ke mana aku ditempatkan!” 

Begitu pula dengan Ali bin Abi Thalib, beliau dikenal banyak menangis dan takut serta rajin muhasabah. 
Read More

Senin, 08 Mei 2017

Merasa cukup ?

Qona’ah merupakan sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap Qana'ah tidak berarti fatalis (orang yang percaya atau menyerah saja kepada nasib) dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar.

Orang-orang hidup Qana'ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana'ahnya dan mempertebal rasa syukurnya.

Adapun contoh bersikap qana’ah dalam kehidupan, diantaranya :

  1. Giat bekerja dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik.
  2. Jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak mudah kecewa dan berputus asa.
  3. Selalu bersyukur atas apa yang menjadi hasil usahanya, dan tidak pernah merasa iri atas keberhasilan yang diperoleh orang lain.
  4. Hidupnya sederhana dan menyesuaikan diri dengan keadaan, tidak rakus dan tidak tamak.
  5. Selalu yakin bahwa apa yang didapatnya dan yang ada pada dirinya merupakan anugerah dari Allah SWT.

Perbuatan Qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap apa yang kita miliki saat ini, Maka hendaklah dalam masalah keduniaan kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah dalam Hadits berikut ini:

Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.(Muttafaqun Alaih)

Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang Qana'ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong dan mengurangi timbangan. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rizki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari akhir rizki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah.

Bila kita mampu merenungi dan mengamalkan makna dan pentingnya qona’ah maka kita akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup. Dan hendaknya diketahui bahwa harta itu akan ditinggalkan untuk ahli waris.
Read More

Jumat, 05 Mei 2017

Isi Hati yang Sepi Dengan Dzikir

Ketika arah mata angin berpaling dari sudut pandangnya, seketika berhembus angin musim kesepian. Seketika hati kecil berbisik akan kesendirianmu.

Si payung yang melihat Awan mendung menunggu akan tiba nya hujan. Tetes gerimis membasahi ku, hatiku pun berbisik, tidak kah si payung akan datang menghampiri ku. 

Sepi, sunyi yang dirasa saat itu, dingin akan hawa kesendirian. Kutanya pada daun - daun yang bersimpuh gerimis, tapi daun tak akan pernah menjawabnya.

Ku menunggu segores pelangi, ia tak ada pernah datang, karena hanya gerimis yang menghampiri, tetapi matahari tak menyinari.

Tak melulu kau bersedih karena hati yang sepi, kamu lupa siapa yang setiap detik nafasmu selalu memperhatikan mu? Dia tak pernah tertidur, Dia maha kekal.

Ingatlah selalu Dia, ramaikanlah hati sepi mu dengan berdzikir. Hatimu tentram dan damai, sejuk seperti embun di pagi hari.

Mungkin ketika kau sudah siap dan matang akan sebuah niat yang baik, ingin menyempurnakan separuh agamamu, maka ketuklah pintu rumah fulanah, lalu ucapkan salam, jangan lupa datang dengan orang tua mu.

Hatimu sepi, ramaikanlah dengan dzikir, kamu tidak akan rugi, malah itu yang akan memperberat timbangan amal mu kelak.

Read More

Kamis, 04 Mei 2017

Persiapan Ramadhan..

Bisa dipastikan seorang muslim yang di dalam dadanya masih ada secercah iman akan menyambut gembira kedatangan tamu agung Ramadhan.

Ibarat akan kedatangan tamu mulia, pastilah tuan rumah akan melakukan persiapan penyambutan seperti membersihkan rumah dan halaman, menyiapkan kamar khusus, menyiapkan menu istimewa, dan lain sebagainya.

Lebih-lebih yang akan datang adalah bulan yang agung, bulan yang suci, bulan yang diberkahi dan penuh ampunan, yakni Ramadhan. Di antara hal-hal yang bisa dilakukan seorang Muslim dalam menyambut kedatangan Ramadhan adalah :

1. Menyiapkan kebersihan jiwa & hati

Yakni dengan banyak memohon ampunan, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, serta memperbanyak doa agar dipertemukan dengan Ramadhan.

Bagaimana mungkin seorang muslim yang menginginkan pahala yang begitu besar dan ampunan atas seluruh dosa, sementara dirinya tetap enjoy dengan kemaksiatannya.

2. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan Ramadhan, baik secara global maupun rinci...

Hal ini sangat penting karena kualitas ibadah seseorang akan ditentukan sejauh mana kefahamannya terhadap syari’at. Maka hendaknya setiap muslim berusaha untuk mempelajari persoalan yang ber-kaitan dengan ibadah Ramadhan agar benar-benar bisa memanfaatkan bulan mulia ini secara maksimal.

Pengetahuan tersebut bisa diperoleh dengan cara membaca buku-buku para ulama, atau menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang Ramadhan.

Sahabat...
Jangan pernah malu terhadap apa yang belum kau ketahui, tapi malulah terhadap apa yang belum kita pelajari!
Read More